Playdough

TOLAK STATUS QUO! Grey

*image di atas didesain dan dimiliki oleh kawan saya, Muhammad Yahya, untuk mengingatkan bagaimana kita bisa bersatu di era Reformasi 1998.

Lagi-lagi tulisan ini adalah tentang subyektivitas saya dalam memandang proses Pilpres 2014. Sekali lagi, ini adalah subyektivitas saya pribadi.

9 Juli 2014 kemarin, Indonesia telah memilih. Saya pun akhirnya juga memilih. Berangkat dari hasil proses hibernasi sebagai warga negara sebelumnya, saya memutuskan untuk memberikan suara kepada capres no. 1, Prabowo Subianto & Hatta Rajasa. Keputusan ini saya ambil tentunya dengan pertimbangan-pertimbangan pribadi saya sendiri sebagai warga negara. Tidaklah perlu saya share dan kemukakan alasannya, seperti pertanyaan banyak teman belakangan ini. Ini mirip dengan kondisi memilih antara BMW dan Mercedes Benz. Fanatis BMW punya preferensi sendiri, begitu juga fanatis Benz, yang tentunya ketika didiskusikan, akan sulit ditemukan garis sambungnya, kecuali fakta kalau keduanya buatan Jerman.

Berkembang dari tanggal 9 Juli, dimulailah marathon seru penghitungan suara. Di sinilah awalnya saya pikir keseruan yang sebenarnya terjadi. Setiap capres sudah isi bahan bakar yang mencukupi, lalu lomba dimulai. Meski berbeda pilihan, saya dan istri berpacu jantung asyik menikmati sajian quickcount di dua TV station; Metro TV vs TV One. Bolak balik channel dipindah-pindahkan, dengan info quickcount yang tentunya berbanding terbalik satu sama lain.

Namun baru satu-dua jam setelah data quickcount mulai ditayangkan, tiba-tiba ada breaking news; deklarasi kemenangan dari kubu Jokowi-JK. Di sini saya tercengang. Sudah secanggih itukah departmen IT negara ini, hingga suara sekian ratus juta rakyat dengan luasan tanah yang besar bisa dianggap valid dan layak dideklarasikan dalam beberapa jam saja? Lalu untuk apa ada rekapitulasi keseluruhan suara di tanggal 22 Juli nanti? Tak lama, sorenya tiba-tiba another breaking news; deklarasi kemenangan dari kubu Prabowo-Hatta. Saya disuguhi sirkus politik kedua capres. Disusul berikutnya oleh komentar-komentar, lontaran statement dan opini dari kedua kubu, yang -lagi-lagi- saling menjatuhkan dan jauh lebih kasar lagi permainannya. Logika saya tentang konsep demokrasi diombang ambingkan oleh kedua kubu, penuh kebingungan dan keterkejutan. Saya pikir riuh rendah huru hara wacana politis sudah usai. Kok sekarang malah semakin ekstrim?

Selama hari-hari menjelang 22 Juli ini, adegan-adegan politik kembali ke posisi awal dan justru dengan suhu yang lebih panas. Ibarat nasi yang sudah tanak, ketika disuap, yang terkecap justru panas didih air dan gemeletuk beras mentah. Panasnya suhu politik ini semakin menjadi-jadi dan merembet ke domain rakyat. Rakyat dibuat bingung dengan adegan-adegan yang ditampilkan para elit politik. Isu-isu akan terjadinya kerusuhan mulai merebak, setiap pihak saling tuding tentang kecurangan suara, hingga gosip-gosip dari masing-masing kubu juga semakin santer terpapar di mata dan telinga rakyat.

Di medan sosmed pun tidak luput dijamah babak baru politisasi pilpres yang panas ini. Semua sibuk saling baku hantam dengan berbagai wacana dan opini. Saling memutus pertemanan, saling gunjing di private message, baku sarkas, hingga saling “keroyok” teman yang beda opini dan preferensi capres. Kini tidak sedikit di antara kita yang mulai memandang satu sama lain dengan cara yang berbeda, memandang berdasarkan haluan politik yang dipeluknya.

Emosional, cemas, mudah tersulut amarah, gelisah dan khawatir menghadapi 22 Juli. Sebelumnya adalah kompetisi perebutan suara, kini kompetisi perebutan mindset. 2 bulan yang sangat melelahkan. Dan entah hingga berapa lama lagi?

Namun, saya menyadari sebuah fakta. Bangsa kita saat ini terbagi menjadi dua bagian yang nyaris sama besar. Kedua bagian memiliki keyakinannya sendiri terhadap capres pilihannya. Sebuah pembagian di tengah-tengah kue. Ini berarti, siapapun yang menang adalah orang yang akan berhadapan dengan setengah populasi negeri ini, mereka yang tidak memiliki keyakinan dan kepercayaan terhadapnya. Dengan margin perbandingan suara yang sangat tipis ini, tidak ada seorang capres pun yang bisa memiliki gelar “Pilihan Rakyat”. Karena keduanya tidak memiliki mayoritas suara yang signifikan. Ditambah efek pagelaran sirkus politik para elit yang tidak simpatik kepada rakyat, menurut saya kondisi ini sedikit banyak akan menghambat sang terpilih untuk bisa bekerja dengan baik, efektif dan optimal di masa depan.

Begitu pula dengan kita, rakyat negeri ini. Yang mendamba demokrasi bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Kita semua sudah lunas menyetubuhi negeri ini, menyalurkan benih suara kita untuk dibuahi. Pengawalan benih ini pun sudah dilakukan oleh para relawan, berharap proses pembuahan terjadi secara murni dan bukan rekayasa. Semua demi lahirnya jabang bayi baru yang akan memanage negeri ini. Namun, kembali sirkus politik para elit membuat kita ragu akan keselamatan suara kita. Statement-statement jebakan para elit, dan intrik-intrik yang akan membuat suara kita menjadi tak memiliki arti lagi. Bahkan kita saling bertengkar satu sama lain. Lalu bagaimana kita akan memandang optimis akan keberlangsungan negeri ini?

Padahal, bila kita mau sedikit evaluasi ke belakang; mereka, para elit politiklah yang kemarin menari demi senyum kita, mengemis perhatian kita, untuk kemudian memeras suara kita, dan kini sedang mengkooptasi mindset kita. Mengapa mereka melakukan itu? Itu karena merekalah yang membutuhkan kita. Mereka yang menawarkan diri untuk memanage. Sementara kita adalah pemilik sah negeri ini. Kita yang memiliki daulat akan negeri ini. Kalau kita dipecah belah begini, bagaimana kita bisa merawat negara ini, mengantarkan bangsa ini menuju kebesaran sejatinya?

Ada sebuah tawaran solusi yang menurut saya bisa meredam kekacauan ini. Yaitu sila ke 3 Pancasila; Persatuan Rakyat. Ya, sebaiknya kita harus kembali bersatu. Bolehlah tidak sepaham, toh kita sudah sangat ahli dalam hal ini. Tetapi, bukankah apapun yang kita yakini dengan segala perbedaan opininya, tidak lain adalah demi keberlangsungan demokrasi di negara ini? Kebebasan berpikir dan berpendapat, berkarya, mensejahterakan rakyat?  We all have the same purpose. For the sake of this country, this nation! Kita harus segera kembali bersatu!

Bayangkan sedikit saja utopisme saya; bagaimana bergidiknya, kagumnya, terpesonanya dan terinspirasinya bangsa-bangsa lain melihat Indonesia, negara yang sangat besar yang pulau-pulaunya dipisah lautan, dengan suku-suku bangsa paling beragam di dunia, mampu melewati proses demokrasi dengan kualitas kedewasaan yang bisa melebihi umur konsep demokrasi itu sendiri.

Jadi, saya akan mencoba memulai dari diri sendiri, menjaga obyektivitas sebagai warga negara untuk kemurnian tujuan bersama tadi. Sebagai pendukung Prabowo-Hatta, bila mereka terpilih, sejujurnya saat itu pula saya akan berdiri sebagai oposan terhadap apapun kebengkokannya di masa depan. Vice versa dengan Jokowi-JK bila terpilih, saya akan menghormati mereka dan di saat yang bersamaan akan berdiri sebagai oposan dengan sikap yang sama.

Sekali lagi, karena kita adalah rakyat, yang hidup bernegara bukan hanya untuk dilayani. Kita, rakyat adalah pemegang saham terbesar negara ini, pemilik sah. Kita wajib peduli dan merawat negeri ini.

Seperti playdough, mari kembali berfusi.

 

Advertisements

One comment

  1. ksatriapetir

    Pancasila
    Sila ketiga : “Persatuan Indonesia”

    Saya setuju…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: