Musyawarah Diri

IMG_6404Tulisan panjang ini 100% adalah sebuah ulasan general dari subyektivitas saya terhadap fenomena pemilu presiden 2014. Saya tidak sedang berkampanye, karena saya sedianya adalah seorang golput sejati. Namun kali ini saya mencoba bersikap seimbang terhadap kedua pilihan, berdiri memandang dari kedua pasang sepatu kubu kedua calon dan satu sudut pandang sebagai seorang warga negara, bagian dari rakyat Nusantara.

Saya hanya mengungkapkan proses belajar, berpikir, mencerna, mengumpulkan data, mengolah semua data, hasil penglihatan, dan hasil pendengaran selama masa kampanye untuk kemudian saya godok kembali lewat sesi diskusi dengan naluri, rasa dan rasio.

Selesai berdiskusi dengan ketiga unsur itu, kemudian saya presentasikan kepada hati nurani saya yang akan memutuskan pilihan saya di hadapan kertas suara nanti.

Jadi, mohon pandang tulisan saya sebagai semacam BAP kronologi pengalaman seorang warga negara yang sedang mencari pemimpinnya. Salah-benarnya subyektivitas saya merupakan tanggung jawab pribadi saya kepada tanah air dan Sang Pencipta.

Selamat menikmati!


Sebulan kampanye penuh drama sudah kita lewati. Suasana kondusif yang tetap terjaga selama masa kampanye harus kita apresiasi dan beri applause khusus, bangsa ini mampu bertahan dari gemuruh drama pemilu yang belum pernah seseru, sekompleks, dan semutakhir ini semenjak era kemerdekaan. Saya melihat kenyataan 250 juta manusia berjiwa besar, mampu menggetarkan dada bangsa dunia lainnya. 5 Juli 2014, kedua kandidat akhirnya selesai mempresentasikan performa, konsep, metode dan karya terbaiknya di hadapan kita semua. Dan saatnya menentukan siapa pemenangnya, untuk mata saya.

Cukup intens saya mempelajari tentang kedua pasangan kandidat, mulai dari mata pelajaran resmi debat capres, ekstra kurikuler kegiatan kedua pasangan dalam berkampanye, bimbingan belajar sejarah kedua pasangan, hingga ke gosip warung kopi dan sosmed tentang kedua pasangan. Saya mengambil beberapa poin yang buat saya penting untuk saya jadikan acuan dalam memilih yang sebenarnya di tanggal 9 Juli 2014:

  • Konsepsi dan program kedua pasangan (arahan yang ditawarkan)
  • Efek kehadiran kandidat di mata masyarakat (pengaruh sebagai pemimpin)
  • Gerbong koalisi (pekerjaan rumah tiap pasangan)
  • Karakter umum kandidat (rasa yang ditawarkan)
  • Evolusi karakter & performa kandidat (pola perkembangan karakter untuk pegangan di masa depan)

KONSEPSI & PROGRAM (VISI & MISI)

Ini adalah sebuah tinjauan normatif. Sangat membosankan untuk dibahas, karena tentunya secara visi pastinya muluk dan secara misi pastinya selalu terlihat feasible. Dan saya melihat bahwa baik Jokowi maupun Prabowo memiliki cita-cita yang sama, menciptakan Nusantara yang adil, makmur, sejahtera dan berdaulat. Keduanya memiliki action plan yang berbeda satu sama lain namun jujur saja, keduanya masuk akal. Saya melepaskan 2 poin ini pada bukti di lapangan saja, siapapun nanti yang terpilih.


EFEK KEHADIRAN KANDIDAT DI MATA RAKYAT

Belum pernah lagi sejak era Bung Karno, Nusantara begitu bergemuruh dengan kampanye pilpres. Keduanya memiliki pengaruhnya sendiri-sendiri yang sangat besar bahkan hingga bisa membuat dua kubu pendukung bersikap dan bertindak sangat kontras satu dan lainnya. Tak jarang, kedua kubu ini berseteru keras, baik di lapangan maupun di dunia maya yang bahkan saya sempat mencicipi efeknya.

Saya sempat terpikir untuk mengambil sikap golput saja, melihat kegandrungan masing-masing pendukung yang sudah mirip histeria seorang metalhead terhadap Metallica, atau euphoria militan anggota ormas agama terhadap pimpinannya. Kegandrungan yang sangat ekstrem, bahkan sanggup mempengaruhi cara memandang teman, cara memandang opini, cara menanggapi opini, hingga cara menyikapi pilihan orang lain. Kegandrungan yang kerap dimanfaatkan pihak-pihak nakal dalam black campaign yang membutakan serta respon terhadapnya yang mambuat tuli pendengaran.

Puncak pengaruh besar kedua calon terhadap kegandrungan pendukungnya tersaturasi hingga terjadi fenomena pembanding yang kontras antar kedua calon; ada calon baik versus calon jahat, calon sadis versus calon baik hati, calon kotor versus calon bersih, kubu Kurawa versus kubu Pandawa. Ini jelas lebih memberikan efek yang berkepanjangan kepada calon pemilih lainnya di luar pendukung kedua kubu bahwa meski ada dua pilihan tetapi hanya satu yang bersih, yang terbaik, paling benar, paling layak. Obyektivitas publik dipermainkan dengan mindset baru ini.

Selain fenomena di atas, perlu diberi sebuah acknowledgment khusus bagi pendukung dari kubu Jokowi. Kehadiran relawan dua jari dan dukungannya yang masif disertai pesan yang konsisten dan seragam; “Salam Dua Jari” dan “Revolusi Mental” memang cukup memukau. Relawan dengan mandiri, swadaya, disiplin menyebarkan virus “Revolusi Mental” lewat berbagai media dan kreativitas, bergerilya dengan sangat militan di antara timeline sosmed dan sangat optimis di lapangan, memberi kilau tersendiri di scene pilpres 2014 ini. Fenomena seperti ini tidak terjadi di kubu Prabowo.

Menjelang usai masa kampanye, semua badai riuh rendahnya perseteruan antar pendukung mulai mereda. Yang akhirnya membuat saya mulai bisa melihat dengan lebih jelas, merunutkan progres dan kronologi peristiwa pada tiap pasangan dan kaitan-kaitannya pada fakta yang terlihat di kekinian. Semakin terlihat fakta mana yang lebih mendekati kebenaran dan cerita mana yang lebih mendekati kebohongan, gosip mana yang mendekati fakta, rumor mana yang hasil mengarang bebas. Ini semua berkat peran para pendukung ramai itu tadi.


GERBONG KOALISI

Prabowo

Deretan begundal berbaris rapi di belakangnya. Dari setiap parpol yang mendukungnya memiliki track record penyumbang tersangka KPK. Melihat Prabowo denga koalisi gendutnya, sejujurnya justru seperti melihat dia kesepian di tengah keramaian. Gerombolan siberat di belakang Prabowo benar-benar menghambat langkah-langkah idealisnya.

Namun, saya memiliki keyakinan kalau Prabowo punya kemampuan untuk menindas kebegundalan gerbong ini, contoh; kini Anies Matta pun bisa kita kritik, cela, bahkan maki lebih leluasa sekarang karena berhasil diseret masuk gereja oleh Prabowo, dipaksa plural. Bahwa ketika Prabowo sepakat dengan Jokowi, dengan gamblang dia sedang mengabaikan arahan timsesnya sendiri, praktis mempermalukan timsesnya sendiri di depan umum. Dia mampu melakukan itu bahkan dari sebelum dia terpilih menjadi presiden. Kemudian ketika JK menyudutkan Prabowo di atas panggung tentang wacana mafia bangsa, sekali lagi dengan jantan dia menjelaskan bahwa bisa saja mafia itu ada di parpol pendukungnya dan itu memang harus dibersihkan.

Ada satu yang saya ingat dari sekian statement kunci Prabowo; adalah bila dia diberi mandat oleh rakyat, dia akan menanggalkan jabatannya dari ketua umum Gerindra. Apa artinya? Saya memandangnya sebagai; Prabowo tidak mau terikat kontrak politik dengan parpolnya sendiri, apalagi dengan parpol lainnya. Perkara wacana kontrak politik dengan koalisi parpol, buat saya jadi bubar jalan semenjak statement di atas dia keluarkan. Entahlah, apa para begundal mampu mencerna statement itu atau tidak.

Jujur, ini sangatlah spekulatif. Pegangan saya hanya pada karakternya yang ksatria, tegas, naif, apa adanya dan nasionalis. Menurut saya, sejarah dan portfolionya yang kelam yang membuatnya “terpaksa” harus menerima dukungan para begundal yang sedang cari rumah baru untuk digerogoti. Namun, kemungkinan bahwa Prabowo akan melakukan tekanan pertumbuhan dan perkembangan parpol-parpol pendukungnya sangat tinggi.

Pertanyaan berikutnya adalah; mampukah Prabowo membagi tenaga, pikiran dan waktu antara menindas para begundal versus mengurusi negara dan rakyat?

Jokowi

Sedari awal saya meragukan kemurnian niat demi bangsa dari koalisi ramping Jokowi-JK. Mengapa? Tidak jauh berbeda dengan koalisi Prabowo-Hatta, di kubu Jokowi diisi oleh parpol utama PDIP yang berkali-kali wanprestasi semenjak didirikan hingga kini, Hanura dengan Wiranto-nya, PKB dengan Cak Imin-nya, Nasdem dengan Surya Paloh-nya. Belum lagi para purnawirawan jendral yang sangat bawel seakan mereka bukan jendral. Koalisi ini, buat saya juga jauh dari kemurnian niat berbangsa dan bernegara.

Yang membuat nafas sedikit lega, adalah kehadiran Jusuf Kalla, Anies Baswedan, dan Khofifah Indar Parawansa. Tiga tokoh ini yang membuat saya percaya diri kalau langkah-langkah Jokowi akan dikawal dengan baik. Apalagi dengan deklarasi Jokowi bahwa dia “hanya taat pada konstitusi dan amanah rakyat”, disusul statement keras JK tentang “koalisi tanpa syarat”, terlihat jelas pasangan ini sedang melepaskan diri dari kontrak politik dengan para parpol.

Lho? Bukankah koalisi parpol pendukung Jokowi-JK memang tidak menuntut kontrak politik? Well, saya harus buka mata; di saat Mega menyatakan Jokowi adalah “petugas partai”, saat itu keterikatan dengan parpol sedang digarisbawahi oleh Mega dan diendorse anggota koalisi lainnya.

Hanya saja, karena koalisi individual (Jokowi, JK, Anies, Khofifah) ini jumlahnya kecil, sekali lagi saya masih berharap-harap cemas mampukah mereka bertahan dari tekanan para gajah parpol di sekitar mereka sendiri? Parpol-parpol yang sedang mangkel karena Jokowi tidak mau “teken” kontrak politik.


KARAKTER UMUM KANDIDAT

Prabowo

Semangatnya yang luar biasa besar tidak terlihat berkurang, bahkan di tengah kelelahannya di debat final ini, suaranya masih mampu menggetarkan dada saya. Mohon dicatat, dia bukanlah manusia dengan track record fisik mental yang mumpuni. Bayangkan, Prabowo adalah manusia yang sudah dan masih mengalami deraan fitnah, ancaman, reputasi buruk, dipecat dari institusi yang membesarkannya, terusir dari negara yang dicintainya, kehilangan bahtera keluarga, bahkan konon secara fisik juga berantakan karena luka perang militer hingga luka stroke yang dialaminya. Dengan kondisi “sehancur” itu, dia masih bisa berdiri di hadapan rakyat, mengepalkan tangan dan berteriak lantang menawarkan diri sebagai pemimpin bangsa ini. Harus diakui, tidak banyak manusia yang memiliki energi sebesar ini. Apakah bahan bakar yang mampu memproduksi energi sebesar ini? Menurut pengamatan saya; Nasionalisme. Dia memiliki nasionalisme yang sangat pekat. Yang bahkan ayahnya pun tidak bisa menghalanginya. Yang bahkan adiknya pun kerepotan menghadapinya. Yang bahkan membuat koalisinya pun kerap salah tingkah karena sering dicubit di depan umum.

Ini sempat membuat saya berpikir untuk langsung menjatuhkan pilihan kepadanya.

Jokowi

Kesederhanaan, kesantunan dan kekikukkannya banyak membius rakyat, mereka merasa diwakili oleh performa khas Jokowi ini. Kebetulan, saya tidak terpengaruh oleh ini. Saya memiliki idealisme tentang seorang pemimpin sebuah bangsa, haruslah bisa disegani oleh rakyat negeri sendiri sekaligus masyarakat dan pemimpin dunia lainnya. Betul, seorang pemimpin sudah selayaknya dicintai rakyatnya, tetapi untuk dicintai itu bukan melulu karena sikap kesederhanaan, merakyat dan memposisikan diri sejajar dengan rakyat. Bila rakyat memahami bahwa pemimpinnya bekerja tulus untuk rakyatnya, segalak apapun sang pemimpin, dicintai rakyatnya adalah sebuah keniscayaan. Untuk Jokowi, saya kurang merasakan getar seorang pemimpin yang saya definisikan di atas. Saya pun masih melihat ada sesuatu yang dia sembunyikan dari pandangan rakyat. Entah itu baik ataupun buruk, namun rasa yang saya alami adalah kemisteriusan Jokowi yang tertutup performa kikuk merakyatnya. Bahkan hingga kini, saya belum bisa 100% “menelanjangi” Jokowi.


EVOLUSI KARAKTER & PERFORMA KANDIDAT

Prabowo

Secara evolusi karakter, saya melihat Prabowo masih konsisten dengan tegas, saaklek, dan militan membela kedaulatan bangsa. Dia juga orang yang konsisten sebagai ksatria yang mau mengakui kelemahan-kelemahannya, meski didera serangan sekeras apapun di atas panggung debat, dia berani menyambutnya secara gentleman. Berkali-kali dengan jantan, dia mengakui keunggulan opini rivalnya dan tak segan menghampiri dan menjabat tangan rivalnya. Bahkan, mohon koreksinya, buat saya Prabowo adalah capres yang paling sering mengucapkan statement; “akan menghormati keputusan rakyat, apapun itu” dan “akan merangkul siapa saja, bahkan rival sekalipun bila rakyat memberikan mandat kepadanya untuk memimpin”.

Satu-satunya perubahan yang saya lihat adalah sikap santun yang di awal justru sangat ia kritisi dari Jokowi. Di tengah perjalanan, setelah semakin meruncingnya persaingan antar kubu, juga ada kemungkinan yang sangat besar bahwa Prabowo melihat kesulitan internal yang dihadapi Jokowi, maka dia merubah sikapnya menjadi santun dalam kampanye di lapangan. Berkali-kali menghimbau massa untuk menghormati lawan. Perkaranya sederhana, Prabowo adalah petarung sejati; dia tidak mau menang bila lawan tidak sepantar dengannya. Dia mau menang dengan digdaya, maka Prabowo memberi sedikit keluangan dengan bersikap “menjinak”, sehingga selepas Jokowi menyelesaikan kesulitan internalnya, dia bisa menyusun kembali kekuatannya untuk melawan Prabowo dengan senjata dan tenaga yang berimbang. Fight fair and square. Ini yang Prabowo mau, fetishnya sebagai seorang prajurit. Nah, sekarang apakah kesulitan internal yang dihadapi Jokowi? Saya jelaskan di bawah.

Jokowi

Saya melihat ada perubahan karakter yang signifikan pada diri Jokowi. Di debat-debat sebelumnya, di kampanye-kampanye lapangannya, di iklan-iklannya dia selalu terlihat low profile cenderung kikuk dan tidak percaya diri. Namun khusus di debat final ini, terlihat dia sangat menguasai keadaan dan bahkan dengan lancar mengutarakan opini, pernyataan, dan action plan yang mendadak terdengar jauh lebih visioner dan tidak terlalu teknis seperti pada debat-debat sebelumnya. Bahkan ada satu hal yang berubah dari yang pernah saya pertanyakan di tulisan terdahulu, bahwa saat itu sempat ada nada keraguan dan ketercekatan berat ketika mengeluarkan statement “saya hanya taat pada konstitusi dan rakyat”. Nah di debat final, dengan statement yang sama, dia menyampaikannya dengan sangat percaya diri. Dan sejujurnya, cukup menggetarkan. Perubahan ini yang membuat saya spontan mengevaluasi ulang, apa yang terjadi di antara debat putaran 2 (ragu) sampai debat final (pede)?

Saya menduga adanya pemberontakan Jokowi terhadap kungkungan yang menjeratnya selama ini. Kungkungan dari koalisinya sendiri, dari pemimpin partainya sendiri. Kita semua tahu, awalnya Puan Maharani yang akan disandingkan di samping Jokowi sebagai option terakhir cawapres dari Mega. Namun, melihat kelakuan Jokowi yang sulit diatur dan jarang mau terbelit kontrak politik, ia kemudian menentukan JK sebagai cawapresnya. Dan bisa diperkirakan, Mega pasti meradang dan bahkan terbukti dengan semakin santer menyebut Jokowi sebagai “si kerempeng”, “dik Jokowi”, “petugas partai”. Sebuah sikap yang merendahkan calon pemimpin bangsa di depan publik. Dan hasilnya jelas; kubu lawan pun langsung memanggilnya “sang capres boneka”.

Dan berdasarkan banyak info yang serupa dan saling mendukung (justru dari berbagai pihak yang tak saling kenal/berhubungan), ternyata dugaan pengungkungan ini bukan hanya dilakukan lewat sikap partai, tetapi juga lewat pembatasan dana kampanye. Pengetatan dana ini yang membuat Jokowi yang tadinya mudah bergerak, lalu berubah menjadi sangat terbatasi, pun soal budget iklan yang tak semoncer kubu Prabowo. Kampanyenya terseok-seok, mencipta deselerasi elektabilitas. Ini yang membuat dia sempat melontarkan statement; “mesin politik tidak bekerja optimal”. Ini yang membuat suaranya meragu dan terdengar tercekat di debat putaran 2.

Namun seiring perjalanan waktu, saya melihat ada dukungan 3 orang yang setia menjaganya; Jusuf Kalla, gerilya Anies Baswedan dan belakangan Khofifah Indar Parawansa, kemudian sambutan jutaan rakyat pro-Jokowi di daerah-daerah, ribuan bahkan jutaan relawan dua jari, dan kampanye salam dua jari yang seperti virus penularannya, Jokowi tersadar bahwa ia telah memiliki kekuatan baru yang jauh lebih masif di luar kendaraan politiknya sendiri. Kehadirannya di konser salam dua jari di GBK, jelas terlihat betapa dia mendulang energi yang sangat besar dari acara itu. Sebuah kenyataan; Jokowi “diacuhkan” koalisi rampingnya, namun “disambut” oleh kekuatan pendukungnya yang sangat masif. Ini yang merubah sikapnya. Di debat final, kepercayaan dirinya mendadak meletup. Dan saya harus akui, dia terlihat mulai lebih mendekati karakter seorang pemimpin dibanding kondisi-kondisi sebelumnya.


Dari bahasan general di atas, saya secara subyektif memandang, merasa, memahami, dan meyakini bahwa di luar semua permasalahan yang menjadi perintang langkah kedua capres, baik Jokowi maupun Prabowo memiliki niat dan cita-cita yang sama luhurnya untuk bangsa, negara dan rakyat Nusantara.

Fakta keduanya menghadapi gerbong koalisi masing-masing yang jujur saja, kadang merepotkan langkah mereka. Meski beberapa action plan dan pesan utama dari kedua calon terlihat mengalami sedikit perubahan, kepamrihan dari masing-masing koalisi terlihat kurang berhasil melunturkan idealisme dan konsep kunci masing-masing kandidat. Keduanya bertahan tidak banyak berubah atau termodifikasi oleh pesanan-pesanan gerbong koalisi di belakang layar.

Sejauh kemampuan pengamatan saya, kedua calon memiliki jumlah barisan pendukung tanpa pamrih yang lebih banyak dari mereka yang pamrih, pendukung yang mampu membedakan mana pemimpin yang tulus, mana yang tidak.

Dari jumlahnya, di kubu Prabowo, pendukung militannya jutaan, mereka yang memiliki fanatisme akan pemimpin yang mereka pandang tegas, berwibawa, berani bertindak, menjadi nahkoda yang menentukan arah dan mampu menjaga kedaulatan bangsa.

Di kubu Jokowi, pendukung militannya juga tidak kalah masif, mereka yang mendambakan perubahan, kebaruan, pemimpin yang mau bekerja melayani rakyatnya dan bisa menjadi teladan dalam kesederhanaanya yang merakyat.

Melihat jumlah dan kualitas pendukung-pendukung dari Sabang-Merauke ini, beban bagi kedua capres sangat jauh lebih besar dibandingkan beban yang pernah dipikul oleh presiden-presiden terdahulu pasca Bung Karno. Akan menjadi sebuah kebodohan yang amat sangat dan jaminan kehancuran nasib bagi keduanya, bila mereka berani mengkhianati dukungan akbar dan tulus ini.

Performa yang lahir dari karakter kedua calon ditempa lewat aktivitas kampanye yang berat, berliku, menguras tenaga, dana, waktu, mood, di tengah derasnya black campaign, negative imaging, fitnah dan bahkan pujian yang bisa meninabobokan, penuh intrik dan muslihat antara kedua kubu, permainan pihak ketiga yang selalu memancing di air keruh, langkah-langkah rahasia pihak asing yang ikut menambah kompleksitas scene pilpres, tidak mengendurkan performa mereka di hadapan rakyat, keduanya masih tetap berdiri tegak dengan karakter khasnya masing-masing.

Evolusi karakter kedua calon pun teruji di kampanye berat ini. Tidak ada yang terlalu meletup atau meredup, bahkan karakter keduanya berkembang dan menguat secara gradual sesuai drama internal kubu dan sesuai gayanya masing-masing. Khusus untuk Jokowi, sedikit masih ada misteri di sana sini, namun paling tidak saya sudah bisa membaca pola karakternya. Both candidates are still being their own self.

Sehingga pada finalnya, saya tidak bisa meragukan determinasi keduanya. Keduanya memiliki satu kepentingan saja yang serupa dan sebangun; demi bangsa dan tanah air. Ini absolut. Ini tidak bisa dibohongi dari mata rakyat. Kredibilitas keduanya siap digadaikan.

Jadi, persoalannya bukan lagi siapa yang jahat dan siapa yang baik di antara kedua capres. Bukan siapa yang Kurawa, siapa yang Pandawa. Stigma itu terhapus sudah. Keduanya adalah putra-putra terbaik bangsa yang hanya berbeda kadar secara manusiawi. Tidak ada keraguan atas kenyataan itu. Sehingga, saya tidak punya alasan apapun untuk tidak memilih.

Satu esensi yang saya pegang:

Bilapun kandidat idaman saya nanti tidak terpilih, saya yakin sang terpilih tetaplah seorang pemenang yang terhormat, yang siap saya dukung dengan sepenuh hati dan pada saat yang bersamaan saya siap berdiri sebagai oposan terhadap apapun kebengkokannya di masa depan.

Karena saya sebagai rakyat hidup bernegara bukan hanya untuk dilayani. Saya, kita, rakyat adalah pemegang saham terbesar negara ini, pemilik sah. Saya wajib peduli dan merawat negara ini.

Untuk bangsa dan tanah air, mari mencoblos dengan rasio, rasa, naluri dan nurani yang sudah bermusyawarah.

Bismillah!

Advertisements

16 comments

  1. ksatriapetir

    Tetep misterius….. Both of the candidates…
    Dan elu tetap misterius… Walau gue melihat gejala lu condong ke satu sisi… Nice thoughts, bro.

    Jujur saat cameo projects mendiskreditkan jokowi, gue marah. Tapi gue inget bahwa anak2 cameo cuma pekerja PH yg ikut apa kata klien.

    Sip bro. Salam 2 Jari…

  2. ganeshatamzil

    Ga perlu marah, lah bro.. Hak setiap warga negara untuk memilih jagoannya. Dan Cameo menentukan sikapnya secara terbuka, adalah sebuah ekspresi demokrasi yang buat gw bagus. Kalo misalnya sekarang gw bilang gw pilih Prabowo, apa itu akan bikin lu mangkel? Masa sih?

  3. ksatriapetir

    Hahahah… Ya justru gue ngarepnya lu pilih prabowo. Mewakili suara gue yg kepalang gue kasih ke jokowi.
    Soal Cameo… Marahnya bukan karena pilihan mereka, tapi karena videonya yg memang mendiskreditkan… Tapi ya #rapopo
    Hehehe

  4. tiffatora

    Reblogged this on Tales of The Breeze and commented:
    Ini lah kira2 yg berkecamuk di kepala sy selama pilpres…

  5. ratoe sastrawiria widia

    good resuming Nesh…

  6. jidatt

    Wooouuwwww,…
    Tengkyu berat ness,.
    Dari tulisan ini gw jd smngt lg utk milih,.
    Krn td nya gw ud bersiap diri utk golput.
    Tp esensi “sang terpilih tetaplah seorang pemenang yang terhormat, yang siap saya dukung dengan sepenuh hati dan pada saat yang bersamaan saya siap berdiri sebagai oposan terhadap apapun kebengkokannya di masa depan” sketika membersihkan harapan golput.
    1x lg tengkyu.

  7. Fahmy

    Sungguh mencerahkan dan mencerminkan ‘kegalauan’ yang ada di dalam benak dan hati saya…. terima kasih atas tulisannya… jadi semangat untuk milih lagi nih!

  8. A ganesh, terimaksih buat tulisannya.
    Apa yg ad dikepala ku, tertuang rapih dan jelas di tulisan ini.
    Insyallah siap untuk nyoblos tanggal 9.
    Bismillah

  9. ganeshatamzil

    Terimakasih teman2 semua, sudah membuat saya merasa bermanfaat bisa ikut melayani negara..
    Yang penting semua ini demi Nusantara..
    Bismillah..!

  10. Haris Nurfadhilah

    Kalau sudah jadi presiden memang biasanya tidak jadi ketua umum lagi, tapi jadi ketua dewan pembina 🙂 Salam kenal mas, tulisan yang bagus..

  11. fadil bali

    Tulisan yg sangat gamblang dan apa adanya, sangat mudah dimengerti dan dipahami..good job Bro..!

  12. Halo mas ganesh, sedikit sharing dan bertanya ya, hope you don’t mind.
    Membaca postingan ini dan link ke postingan sebelumnya, aku yakin kalau apa yang dilalui mas ganesh juga pernah dilalui oleh sebagian besar orang Indonesia dalam pilpres ini.
    Debat ca/wapres emang diharapkan jadi ajang langsung untuk ‘bertatap muka’ dengan masyarakat sehingga masyarakat bisa lebih mengenal siapa calon-calonnya. Tapi apakah bukan terlalu naif jika pilihan ditentukan sebagian besar oleh hasil debat ca/wapres? Sebelumnya mohon maaf saya bicara begitu, karena aku dan orang disekitarku menentukan pilihan bukan dari debat ca/wapres tapi dari semacam research yang akhirnya mengukuhkan pilihan kami masing-masing.

    Kondisinya sekarang memang sudah cukup ricuh. Kadang orang yang sebelumnya tidak tahu apa2 mendadak menjadi tahu sejarah dan kemudian saling mempengaruhi, saling menjatuhkan, sehingga sudah tidak ada lagi berita yang benar/valid.

    Aku senang membaca tulisan ini, namun ibarat sebuah research, variablenya kurang cukup untuk dijadikan analisa. Bukan tidak bagus, hanya masih kurang komprehensif. But again, aku tetap menghargai tulisan ini karena ini tulisan yang sangat bagus. Ah, toh juga tidak semua orang Indonesia memilih berdasarkan research kan ya… Jadi sah sah saja 🙂

    Akhirnya membaca postingan ini, saya juga merasa mas ganesh menjadi misterius. Awalnya menulis sebagai ‘Golput Sejati’ namun seriring tulisan, sepertinya mas ganesh telah menjatuhkan ke pasangan tertentu 🙂

    Hmmm… Memang begitu lah aturan main dari pencarian pemimpin ini: kita hanya bisa pilih satu. Semoga siapapun yang menjadi presiden terpilih akan mampu menjalankan apa yang telah mereka sampaikan pada rakyatnya disaat kampanye dan debat president.

    Salam kenal dan selamat memilih untuk esok hari.

  13. ganeshatamzil

    Hallo, Dee..

    Makasih ya udah mau baca tulisan saya. Soal komprehensif atau tidak, sedari awal saya sudah jelaskan bahwa ini “100% adalah sebuah ulasan general dari subyektivitas saya”, jadi memang sifatnya subyektif, mengulas secara umum. Kalau mau saya jabarkan data, kayanya malah jadi bikin makalah. Sementara saya menulis tentang usaha saya bermusyawarah dengan diri saya dalam menyikapi pemilu 2014. Jujur saja, selain sumber data dari berbagai media baik media yg netral, berpihak, maupun media2 hitam, hingga gosip, saya juga ikut mengalami proses2 politik RI semenjak 1998.

    Memilih itu gratis, sebuah hak dan bukan kewajiban. Tapi kok ya ternyata utk mengambil peran sederhana ini berat sekali rasanya, bikin males mikir, males musingin. Pokoknya pengen hidup normal aja di negeri ini. Dan saya pikir ini egois.

    Juga soal golput, jujur sebagai golput sejati, saya juga merasakan peran saya yang kurang kepada negeri ini. Saya hanya merasa dilayani saja, lalu misuh-misuh ketika pelayanannya saya rasa kurang. Ini yang saya kritisi dari diri sendiri. Hak apa saya minta dilayani, bila saya belum pernah berperan merasa lebih merawat negeri ini dari semua layanan yang saya dapatkan? Ini yang mengusik saya. Dan saya melihat bahwa peran sebagai warga negara di bidang politik itu satu-satunya yang belum saya lakukan. Well, sudah sih jaman Gus Dur, dan SBY tahap 1, tapi jujur sisanya saya golput karena kecewa.

    Dan hasil dari kritisi diri, diskusi, musyawarah dengan diri, saya harus bermufakat dengan diri sekali lagi bahwa saya harus berperan untuk negeri ini. Hasil pilihan saya nanti mungkin tidak sesuai dengan pilihan orang lain. Bahkan bila pilihan saya sama dengan orang pun, belum tentu alasan, basis, metoda, pengaruh dan stimulan dalam memilih pilihan itu sama dengan orang tersebut.

    Kita semua di 17 Agustus 1945 terkutuk atau terhikmah untuk sepakat untuk bernegara bersama. Memikirkan bukan hanya diri sendiri, tapi juga merasakan, memikirkan dan memutuskan putusan terbaik menurut masing2 untuk ratusan juta perut, pikiran, selera, intelektualitas, kebahagian. Untuk warga negara, rakyat negeri ini.

    Buat banyak orang mungkin klise ya? Iya, saya juga heran. Well, saya cuma inget kata nurani saya waktu itu: Sederhana saja, aku meneteskan ari-ariku di tanah ini, tubuhku dicuci oleh air ini, kuberak di tanah ini, kumakan di tanah ini, kuminum airnya, kujatuhkan airmataku di tanah ini, kuteteskan darah di tanah ini untuk kemudian dibasuh kembali oleh air ini.

    Kira2 itu rasanya saya menjadi warga negara. Makanya jadi kayak film superhero.. Hihi..

    Anyway, terimakasih tanggapannya, sebuah kehormatan dikunjungi mbak Dee.. Semoga kita bisa saling mencerahkan, sukur2 bisa gebugin koruptor sama2.. Amiiin..

  14. Octavianus Heru

    “Tulisan panjang ini 100% adalah sebuah ulasan general dari subyektivitas saya terhadap fenomena pemilu presiden 2014. Saya tidak sedang berkampanye, karena saya sedianya adalah seorang golput sejati”. Subyektifitas yg didasari akan analisa komprehensif dan nurani yang “tetep berahlak dan beritikad baik”. SALUTE NESH!!! Warm Regards,

  15. Adam Arizal

    Reblogged this on Adam Arizal and commented:
    Walaupun jauh dari tepat waktu buat nge-reblog, tapi saya ngerasa tetap harus ikut berbagi buah pikiran ini. Nice thought bro..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: