Mengintip di Balik Layar Pilpres 2014

garuda.2

Melihat perkembangan situasi di level pemilih, saya melihat semakin besar jurang pemisah antara fans capres satu dan lainnya. Masing-masing bertahan dengan keyakinannya dan semakin ke sini, masing-masing jadi semakin gemar mencemooh dan saling meledek dengan lawan mainnya.

Buat saya, ini adalah sebuah sikap yang bodoh dan tidak menghormati peran rakyat, kita sendiri. Kita harus paham benar bahwa kedua capreslah yang sedang memperebutkan suara kita. Bukan kita yang memperebutkan kedua capres untuk dimiliki. Merekalah yang akan berdiri di atas sana sebagai pemimpin yang akan mengarahkan kita ke depan. Untuk itu mereka harus mampu mempresentasikan action plan-nya, dan yang terbaiklah yang akan kita pilih.

Menurut saya, belum saatnya kita memilih jagoan kita masing-masing, karena pengetahuan akan action plan, track record, dan predikat masing-masing capres juga belum 100% kita kuasai (bahkan belum 100% mereka presentasikan ke kita).

Maka dari itu, di sini saya mencoba mengutarakan persepsi saya terkait kedua capres, gerbongnya dan kondisi lapangan politik Nusantara saat ini. Ini hanyalah sudut pandang saya pribadi, berdasarkan apa yang saya observasi melalui media maupun pengalaman pribadi sejak 1995 hingga 2014 ini.

 


Okay, kita bongkar dulu soal koalisi parpol kedua gerbong:

1. Koalisi Parpol untuk Jokowi-JK

Seiring waktu, yang harus diperhatikan 10 tahun terakhir ini, PDIP direken sebagai partai yang bersimbah keringat rakyat dengan jumlah kasus korupsi terbanyak di negeri ini. Belum lagi Nasdem, PKB, dan Hanura, masing-masing parpol pernah berperan menyumbangkan “oknum” koruptor untuk negeri ini.

 

2. Koalisi Parpol untuk Prabowo-Hatta

Koalisi parpol pendukung Prabowo dimulai dari PAN, PPP, Golkar, PKS, kemudian disusul PD. Kita semua tahu bahwa setiap anggota “geng” ini juga memiliki kasus-kasus bermasalah di negeri ini. Ada ARB dengan kasus lumpur Lapindonya, SDA dengan dugaan korupsi dana haji, PKS dengan korupsi sapi impor, dan banyak lagi kasus lainnya. Dan lagi-lagi, istilah “oknum” menjadi sang kambing hitam penyelamat.

Indeks Korupsi Partai Politik

Jadi, melihat peran dan track record tiap partai, masing-masing koalisi tidaklah lebih baik dari koalisi lainnya. Ini fakta, terbuka dan tidak terbantahkan selain penggunaan istilah “oknum”. Kedua koalisi sama-sama saja kualitas begundalnya.

So, apa yang kita bisa harapkan dari mereka? None. Nothing. Zero.

 

 


Sekarang kita coba analisa konstelasi dua gajah.. oops, maaf, maksudnya yang satu Kebo, yang satu Macan (baca dengan dialek bencong: macyaaaaan)

Konstelasi Megawati

Megawati hadir sebagai representasi dari Sukarno, sebagai keturunan langsung Sukarno, kekuatan pro rakyat, pengusung panji demokrasi, dan nasionalis pekat. Setidaknya ini yang ingin dimaksudkan untuk diingat di mindset rakyat. Megawati pernah mengalami sebuah kasus yang dikenal dengan kasus 27 Juli 1996, dimana sekian pengikut loyal Megawati saat itu disapu dengan berondongan peluru aparat. Saat itu Mega menyebut dirinya sebagai korban represi Orde Baru.

Dan di tahun 2001, akhirnya ia terpilih sebagai presiden RI dan justru anomalinya adalah; tak ada pengusutan tuntas yang berarti untuk (minimal) keluarga korban 27 Juli 1996. Saat yang dinanti-nanti untuk mengusut tuntas kasus tersebut tidak pernah tiba. Mengapa? Apakah ada yang ditutup-tutupi?

Di 2009, ia maju bersama Prabowo sebagai pasangan capres-cawapres, namun anehnya, tidak ada satupun yang mengungkit kasus-kasus besar yang menempel pada pasangan ini. Keduanya cenderung mesra, damai dan indah hingga berakhir dengan mengikat janji setia di “Perjanjian Batu Tulis”.

Namun di 2014, tiba-tiba Mega memasang posisi berhadapan dengan Prabowo, dengan membawa anak didiknya, Jokowi yang notabene juga pasangan Ahok, anak didik Prabowo. Jokowi justru dihadapkan langsung dengan Prabowo sebagai lawan tandingnya.

Selain itu, di belakang Mega juga berbaris rapi sejumlah purnawirawan jendral seperti Hendropriyono, Agum Gumelar, Wiranto, dan lain-lain. Keseluruhan purnawirawan jendral ini, kebetulan sekali adalah mereka yang namanya pernah tersebut di gosip kasus-kasus HAM besar negeri ini, dan kebetulan sekali lagi, semuanya adalah mantan atasan yang memecat Prabowo.


Konstelasi Prabowo

Prabowo adalah seorang jendral kontroversial mantan menantu mantan presiden ke 2 RI, yang karena berbagai kasus yang ditimpakan kepadanya, menerima pemecatan dari TNI. Muncul kembali ke permukaan di 2009 dan 2014. Predikat paling kental yang disandangnya adalah “jendral penculik aktivis 98”, dan kemudian berlanjut ke arah “dalang kerusuhan Mei 98”, “jendral yang berniat mengkudeta Habibie”, dan sebagainya. Di kalangan terbatas, ia juga dikenal sebagai sosok nasionalis pekat, dengan patriotisme tinggi, dan berambisi besar untuk menjaga murninya kedaulatan NKRI. Itu brandingnya, wacananya.

Di belakang Prabowo, ada beberapa mantan jendral juga, namun tidak sebeken para mantan jendral di kubu Megawati. Hampir terang dan jelas bahwa Prabowo tidak punya backup dari level atasannya, kecuali kalau nanti PD jadi bergabung bersama SBYnya.

Di 2014 ini, Prabowo kembali naik panggung pemilihan capres menggandeng Hatta Rajasa. Yang mengherankan, tiba-tiba di moment ini ia mendadak digempur dengan isu-isu kasus HAM yang selama pasca pemecatannya di tahun 1998 hingga 2013 tidak pernah dibahas maupun diungkit sama sekali. Isu-isu ini pun dilempar secara nyata oleh para purnawirawan jendral di belakang Mega yang notabene belum jelas juga posisi perannya di gejolak Reformasi 1996-1998.


Konstelasi Para Jendral

Di 1996, semua tahu kasus pengambil-alihan Orde Baru terhadap kantor PDIP yang mengorbankan loyalis Mega di jl. Diponegoro itu melibatkan banyak aparat militer. Ada Syarwan Hamid, Sutiyoso, Sjafrie Sjamsoeddin, SBY dan sebagainya.

DI 1998, semua tahu siapa saja yang tersebut namanya ketika kerusuhan terjadi. Ada Wiranto sebagai Panglima ABRI, Sjafrie Samsoeddin, Kivlan Zen, SBY, dan Prabowo.

Bila diperhatikan, dari sekian banyak peristiwa militer di masa lalu, setiap operasi militer di Nusantara selalu membutuhkan beberapa satuan komando, butuh kerja tim yang solid; Timor Timur, Aceh, Papua, Poso, Sampit, tak terkecuali 27 Juli 1996.

Prabowo. Sebuah nama yang sangat dekat dengan masalah militer. Ia tertuduh di; kasus penculikan aktivis 1997, kerusuhan Jakarta Mei 1998, rumor pergerakan tentara Kostrad terkait rencana kudeta terhadap pemerintahan BJ Habibie 1998. Semua dikaitkan dan dituduhkan kepada Prabowo. Namun, mohon perhatikan sedikit anomali:

  • Timor Timur, sebuah pulau di bawah kendali militer selama puluhan tahun.
  • Aceh, sebuah propinsi di bawah kendali militer selama puluhan tahun.
  • Nah.. di Jakarta, sebuah kota, tempatnya Mabes ABRI, justru diacak-acak seorang jendral kecil sendirian, dan tidak bisa dikendalikan hingga jatuh korban di sana sini berjumlah ribuan? Kemanakah jendral lainnya? Kemanakah satuan komando lainnya?

Baru-baru ini Kivlan Zen, mantan jendral pendukung Prabowo langsung pasang badan dan angkat suara soal tuduhan ini. Bahkan Kivlan mengancam akan mengeluarkan bukti-bukti lapangan terkait kasus Mei 98 dan siapa yang sebenarnya bertanggungjawab. Suasana memanas. Dari kubu Mega, Wiranto menyambut dengan pernyataan terbarunya bahwa pemberhentian Prabowo itu jelas karena kasus penculikan aktivis 98, ia meminta rakyat untuk melihat substansinya: pemecatan karena prajurit yang memberontak. Belum lagi Hendropriyono ikut sumbang pendapatnya tentang kondisi psikologis Prabowo.


Belanja Suara Rakyat

Kini, melihat paparan saya di atas, apakah lebih jelas gambarannya? Bagaimana kita diarahkan?

1. Senjata lewat parpol sempat efektif bekerja, namun saya yakin selama kita memperhatikan seksama siapa saja di balik partai-partai itu, bisa dibilang tidak ada yang bisa diharapkan. Kedua koalisi parpol isinya sama saja: begundal. Dan saya yakin rakyat tidak bisa dibeli oleh ini. Atau masih bisa?

2. Senjata lewat ketokohan, Megawati versus Prabowo. Sekali lagi, setelah melihat track record masing-masing yang ignorant terhadap kasus-kasus HAM besar di eranya masing-masing, tampaknya juga tidak ada yang bisa diharapkan. Keduanya misterius. Tapi keduanya tahu, ketokohan mereka bisa diobral murah kepada rakyat, keduanya nasionalis, sukarnois, patriotis. Ini masih memiliki kemungkinan untuk bisa membeli rakyat.

3. Senjata di belakang layar. Permainan elit purnawirawan jendral satu dan lainnya. Bagaimana mereka mengarahkan persepsi, memainkan peran, melempar bola panas, mengisi terus bahan bakar black campaign dari/oleh/untuk kedua pendukung capres. Dan kini sedang terjadi. Kita diadu domba via black campaign, saling cerca dan cemooh. Sudah terbelilah kita.

4. Senjata lewat media, kesemua cerita di atas disampaikan lewat media yang tentunya berpihak pada pemiliknya, anggota partai masing-masing koalisi, dengan cara dan proporsi seuai kepentingan yang diusung. Rakyat diombang-ambing oleh ratusan opini yang diarahkan masing-masing media. Kecenderungan yang bersifat fakta masih bisa terbaca, namun selalu diselimuti oleh opini yang ditawarkan. Kebetulan saya memilih untuk “reading between the lines”, sulit, tapi masih terbaca. Namun mayoritas rakyat sudah tenggelam dalam arahan media ini.


Jokowi.

Ia terpersepsikan sebagai pemimpin yang merakyat, sederhana, senang turun langsung ke lapangan. Ide-idenya fresh, briliant, dikemas dengan sederhana dan praktis. Dambaan rakyat Nusantara.

Tetapi, Jokowi adalah orang yang sangat misterius. Latar belakangnya yang bias, kehidupannya yang isinya hanya terlihat bekerja, strategi dan langkah-langkahnya tidak terbaca. Dari yang awal di Solo menyatakan tidak tertarik untuk ikut cagub DKI, lalu tiba-tiba naik panggung Jakarta, dan menang. Dari yang awal di Jakarta menyatakan hanya memikirkan banjir, lalu tiba-tiba naik panggung nasional, dan mendominasi minat. Benar-benar langkah yang tidak terdeteksi.

Berbagai track record keberhasilannya di Solo dan Jakarta adalah justru merupakan track record kegagalannya juga. Tergantung dari mana kita melihatnya. Melihat sekarang atau melihat belakangan? Melihat dari mereka yang terbantukan atau dari mereka yang tersulitkan? PKL di Solo merasa tidak terbantukan hidupnya, rusun di Jakarta masih protes juga sampai sekarang, blok G Tanah Abang juga menyisakan protes, Trans Jakarta, MRT, efektifkah KJS, KJP, dan banyak lagi. Semua ada unsur portfolionya, tapi juga ada kegagalannya.

Namun, Jokowi adalah tokoh yang mampu menjadi begitu sexy di mata rakyat, hingga JK pun menyerah dan membelinya, menawarkannya pada Prabowo untuk dijadikan ujung tombak Jakarta. Saking sensualnya Jokowi, Megawati pun membelinya kontan untuk dijadikan ujung tombak negara berhadapan dengan Prabowo.

Siapakah orang ini? Begitu dipuja, bahkan oleh negara asing. Namun bila ditanya soal kepemimpinan negara, ia menyembunyikan jawaban visionernya justru dengan jawaban seorang administratur, manager, pegawai.

Di debat pertama, ia terlihat begitu tergagap-gagap hingga kerap melempar peran ke JK. Di debat kedua, ia terlihat jahil dengan pertanyaan-pertanyaannya, tetapi kembali kikuk ketika Prabowo menjabat tangannya mengakui kreativitasnya.

Satu-satunya yang membuat saya melihat keaslian Jokowi adalah ketika closing debat kedua, terlihat ia tercekat berat dan memaksakan keluarnya statement bahwa ia hanya taat pada konstitusi dan rakyat. Terlihat begitu mendongkol menumpahkan semua uneg-unegnya secara live. Ada apa di balik tercekatnya Jokowi?


Quiz dan Teka Teki

Terakhir adalah teka teki di peta pilpres 2014.

1. Di penghujung 2013 saya memutuskan bergabung dengan relawan turun tangan besutan Anies Baswedan. Yang membuat saya tertarik dengannya adalah statementnya ketika keikutsertaannya di konvensi Partai Demokrat dipertanyakan publik. Jawabannya sederhana, ia memilih untuk ikut berada di dalam masalah dan turun tangan ikut menyelesaikannya. Jadi maksud Anies Baswedan ikut koalisi Jokowi-JK adalah…?

2. Jusuf Kalla, tokoh negarawan yang ceplas ceplos. Sempat ia lontarkan statement kalau negara dipimpin Jokowi, bisa hancur negeri ini. Lalu kemudian ia justru bergabung dan malah menjadi cawapres Jokowi. Ada apa ini?

3. Di debat satu, JK menanyakan sesuatu yang sensitif kepada Prabowo, memulai pertanyaan dengan statement “pengikut tak pernah salah, atasan yang selalu salah”. Setelah Prabowo menjelaskan, sekali lagi JK mempertanyakan apa penilaian atasan, dan dijawab Prabowo ‘”Silahkan tanya atasan saya..”. Ketika studio bergemuruh dengan tepuk tangan dan tawa, tidak ada yang perhatikan senyum simpul penuh arti di antara JK dan Prabowo. Banyak orang berpendapat, JK sedang menyerang Prabowo. Benarkah begitu? Orang sekapasitas JK melakukan blunder seperti itu? Atau maksud sebenarnya dari JK adalah…?

4. Megawati sebagai tokoh nasionalis yang konon Sukarnois, anti asing, menjaga kedaulatan bangsa. Namun pada tanggal 15 April 2014, mengajak Jokowi untuk melakukan pertemuan tertutup dengan dubes Amerika Serikat, Norwegia dan Denmark di kediaman seorang pengusaha di bilangan Permata Hijau. Ada apakah ini? Bukankah seharusnya para dubes dan pengusahalah yang berkunjung ke para capres untuk sowan dan melakukan pendekatan? Mengapa ini justru sebaliknya? Mengapa Megawati memperlakukan calon presiden negeri ini dengan cara seperti itu?


Maksud saya sederhana, mari kembali menjadi rakyat yang bersatu untuk Nusantara. Apa yang kita saksikan, dengarkan, baca belum tentu seperti yang kita lihat dan sangkakan. Banyak sekali hal yang belum terungkap, puluhan agenda politik, ratusan pengarahan opini, hingga usaha adu domba rakyat. Semuanya dikemas rapi dalam wacana-wacana idealis demi kepentingan rakyat.

Kita harus mampu meneliti mana niat, tokoh, pesan, dan program yang benar demi kepentingan rakyat, mana yang hanya wacana kendaraan politik. Pelajari lagi dengan kritis segala hal tentang pilpres 2014 ini. Presentasi para capres belum usai, jangan terlalu dini menentukan penilaian. Apalagi sampai harus saling cemooh, gontok-gontokan sesama rakyat memperebutkan kedua jagoan yang faktanya belum tentu seperti yang kita harapkan.

 

Biarkan mereka menyelesaikan presentasinya, kemudian silahkan nilai mereka di depan kertas suara. Jangan di depan saya.

 

 

Advertisements

5 comments

  1. Alvin Hybrid

    pokoknya gue mau yg pertamax!

  2. Tom

    Ini jelas sekali biasnya ke prabowo.

  3. ganeshatamzil

    Monggo, silahkan saja beropini demikian.
    Yang pasti niat saya sampaikan di konteks: presentasi para capres belum usai, mari rapatkan barisan sebagai rakyat yg belum bisa dibeli para capres, hingga tgl 9 Juli 2014 nanti.
    Terimakasih sudah mau berkunjung.

  4. N. Nugroho

    Punten, itu data KPK Watch itu sudah diklarifikasi oleh ICW bahwa data tersebut tidak benar: https://www.facebook.com/IndonesianHoaxes/posts/717512394967960:0

    Saya bukan kader/partisipan PDIP tapi sebaiknya jika ingin menulis opini harus berangkat dari data yang valid. Terima kasih 🙂

  5. ganeshatamzil

    Siap, akan saya pelajari lagi. Terimakasih masukannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: