Nasionalisme Internal

Saya menulis ini setelah beberapa waktu mengamati fenomena nasionalisme yang terjadi di sekitar saya. Mayoritas fenomena nasionalisme ini terjadi karena “usikan” dari pihak luar, atau disini saya sebut sebagai masalah eksternal. Dan memang semenjak kasus bangsa ini di tahun 97-98, belum ada lagi “usikan” internal yang membangkitkan nasionalisme. Bahkan di tahun 97-98 pun tidak terjadi sebuah gerakan nasionalisme unified yang bertahan, karena setelah kasus di era itu yang terjadi adalah berjamurnya partai politik, kepanikan ekonomi, dan hujan opini dari jutaan manusia Indonesia yang mengaku nasionalis saat itu, dimana 10 tahun setelahnya ia menjadi seorang kapitalis poliitik yang tidak nasionalis sama sekali.

Sehingga seringkali, rasa tentang nasionalisme hanya terjadi bila terjadi usikan dari luar:
• pertandingan/perlombaan SDM internasional (olah raga, pendidikan, dll)
• penindasan SDM di luar negeri (kasus-kasus TKI, TKW, dll)
• pencurian SDA dan budaya (gontok-gontokan Malaysia-Indonesia)
• menjamurnya perusahaan dan SDM multinasional (ad-agency luar yang menguasai pasar)

Banyak juga rasa nasionalisme yang muncul, yang secara signifikan memberikan perubahan di sekitar saya;
• Ada mas Iwan yang sedang gencar mengkampanyekan Travel Warning: Indonesia is Dangerously Beautiful.
• Ada Undang-undang baru tentang pembatasan SDM asing di dunia periklanan.
• Ada Visit Indonesia 2008 oleh Departemen Pariwisata RI
• Mulai bergeraknya pemerintah tenttang hak atas kekayaan intelektual dan hak cipta tentang budaya setelah kasus “rasa sayange”, “reog ponorogo” dan lain-lainnya.

Hal ini berlangsung bertahun-tahun, sehingga terjadi banyak kasus naif tadinya yang bermaksud mengangkat nasionalisme Indonesia sejati, karena inputnya selalu tentang masalah eksternal, maka outputnya pun hanya berkisar di masalah eksternal.

Padahal, satu hal yang saya percayai bila bangsa ini mau maju, nasionalisme yang sebenarnya harus keluar dari “dalam” karena masalah di “dalam”. Sehingga fanatisme terhadap produk dalam negeri, industri dalam negeri, sampai kecintaan kita terhadap sumber daya alam & manusia dalam negeri bisa terjadi tanpa harus terlebih dahulu diusik dari luar.

Seperti Korea dan India yang fanatik dengan produk-produk dalam negerinya. Atau seperti Thailand dan Cina yang banyak mendapatkan devisa dari pelayanan dan fasilitas teknologi perfilman, pariwisata, dan perindustrian.

Kita hanya berkutat di masalah “kebanggaan nasional”. Ada Pertamina yang bangga dengan “Kita Untung, Bangsa Untung” bersama Ananda Mikola, Rifat Sungkar dan “pahlawan-pahlawan nasional” lainnya. Ada cerita-cerita tentang betapa bangsa lain begitu kagum dengan budaya kita, bahkan kasus Malaysia sendiri membuktikan bahwa artefak budaya kita begitu luhur untuk dapat membuat mereka “cemburu” dan merasa berhak untuk “mencurinya”.
Hal –hal ini yang membuat kita bangga akan bangsa kita. Lupa akan sejatinya bangsa kita yang harus kita renovasi; korupsi, birokrasi yang bobrok, oportunisme pribadi, turunnya hubungan antar sosial, rasa memiliki yang makin menipis, dan lain-lainnya.

Kelupaan inilah yang akhirnya menampar saya tepat di pipi saya, sehingga harus melepaskan sumber mata pencaharian saya yang menghidupi keluarga saya saat ini.

Saya sempat bekerja di sebuah rumah komunikasi yang ketika itu sedang difokuskan untuk mengerjakan sebuah proyek PILKADA. Idealisme partai yang diusung oleh salah satu calon kepala daerah itu cukup membuat saya terpesona. Ketika itu kami bercita-cita tentang sebuah ad-agency yang mengusung visi perbaikan terhadap bangsa. PILKADA ini tadinya hanya sebuah proyek untuk mengembangkan modal (di luar agenda-agenda taktis lainnya). Meski calon kepala daerah kami kalah, tidak menjadikan kami sebagai total loser, karena perolehan suara yang melampaui target-lah yang dijadikan acuan.

Campaign ini terhitung sukses dalam personal branding, total social communication, dan strategi komunikasi. Justru kesuksesan ini yang sedikit banyak membuat kepercayaan diri para pendiri perusahaan ini meningkat. Ketika itu fokus visi perusahaan dipusatkan pada industri komunikasi politik. Buat saya hal ini bagai pisau bermata dua; industri politik masih sangat belia di negeri ini. Belum banyak pemainnya. Kesempatan untuk menjadi pemain di industri ini dapat menambah ilmu, pengalaman dan rekognisi saya pribadi sebagai seorang profesional. Namun di lain pihak, mengusung calon nasional yang tidak sesuai dengan hati nurani saya menggelitik rasa peduli saya terhadap tanah air.

Analoginya begini; tak akan hancur bangsa ini bila seluruh Indonesia membeli Indomie, Kecap ABC, atau TV Plasma Samsung, meski saya tidak memiliki kepercayaan tertentu terhadap produk-produk itu. Hey, it’s only products & advertising. Namun, apa yang menjamin keberlangsungan bangsa ini (kehormatan, ekonomi, budaya, sosial, dll), bila seluruh Indonesia memilih Suharto kembali sebagai presiden RI atau calon-calon lain yang tidak mampu menyematkan kepercayaan di hati nurani saya sebagai warga negara RI? Bukankah menjadi tanggung jawab saya untuk membuat rakyat memilih calon yang kami usung? Dan bila memang seIndonesia memilih si Fulan sebagai presiden RI (karena saya yang mengiklankan si Fulan), bagaimana moral saya mampu mempertanggung jawabkannya kepada rakyat (lebih berat lagi, mempertanggung jawabkan di akherat) bila si Fulan ternyata seorang yang lalim, diktatorial, koruptor, dll?

Bahwa bila saya mengiklankan produk, berarti memberikan informasi dan kepercayaan tentang apa yang dibutuhkan secara fisik oleh pembeli. Namun bila saya mengiklankan seorang calon pemimpin, berarti saya memberikan informasi dan kepercayaan tentang apa yang dibutuhkan secara moral, nurani, dan kehidupan berbangsa oleh pemilih.

Hal ini yang membuat saya merasakan sesuatu yang lain tentang nasionalisme yang biasa saya rasakan: nasionalisme saya bangkit karena usikan dari “dalam”. Dan tindakan saya adalah mengundurkan diri dari perusahaan tersebut. Paling tidak, ada yang saya lakukan untuk bangsa ini, berdasarkan sudut pandang saya untuk memiliki cicit di sebuah negara yang mapan.

Entah bagaimana cara bekerjanya, namun sesuatu harus kita lakukan untuk membangkitkan nasionalisme berdasarkan usikan dari “dalam” ini. Sehingga kebanggan kita terhadap bangsa ini tidak hanya terjadi karena budaya kita dicuri bangsa lain, karena anak-anak kita meraih emas dalam olimpiade matematika, karena negara kita diberi Travel Warning oleh beberapa negara lain atau karena klien kita habis dilahap oleh ad-agency multinasional.

Pertanyaan saya: Bagaimanakah meningkatkan nasionalisme bangsa ini lewat usikan internal?

Untuk bisa bangga karena kita tidak mengkorupsi uang kepercayaan bos, membuang sampah sembarangan karena tidak ada tanda larangan buang sampah sembarangan (Jepang memiliki budaya rapi dan bersih yang membuat bangsa itu merasa tidak terhormat bila membuang sampah sembarangan, mencuri atau korupsi), menyogok Polisi ketika ditilang,dan hal-hal lainnya?

Pertanyaan saya lepaskan kepada kita semua.
Persoalan akan dijawab atau tidak, itu semua terserah kepada kita semua juga. Untuk realisasi jawaban tahap pertama (karena masih akan ada jutaan tahapan jawaban berikutnya) sudah saya jawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: