Mari Berhitung yang Sebenarnya!

Wow! Sudah lama saya tidak menulis di sini. Hampir 2 tahun lebih! Whew! Mungkin karena sudah lama saya tidak terbiasa untuk menulis lagi, justru sebaliknya saya lebih banyak berhitung belakangan ini. Nah, bicara mengenai kegiatan berhitung, banyak sekali yang saya lakukan dengan kegiatan ini. Dari mulai menghitung cost pengeluaran bulanan pribadi maupun keluarga, cost produksi shooting, hingga menghitung untung-rugi dalam menjalankan usaha jasa produksi kantor kami. Terlalu banyak berhitung sehingga malam ini saya baru saja menyadari ada sesuatu yang terlewat dalam kegiatan “berhitung” ini.

Untuk definisi “berhitung” yang saya maksud di sini adalah tentang bagaimana kita mengukur hasil pemberian atau penerimaan sesuatu. Baik itu fisikal maupun non fisik. Seiring waktu, kadang kita terlupa bahwa kini hampir setiap hal selalu kita hitung sebelum atau sesudah kita melakukan sesuatu.
Dahulu, Indonesia terkenal dengan ideologi yang mengedepankan tentang sifat ramah tamah, sopan santun, tolong menolong, gotong royong, tanpa pamrih dan musyawarahnya.
Kali ini saya mau coba mengedepankan 3 sifat: saling bantu, gotong royong, dan tanpa pamrih. Kini sifat-sifat ini menjadi semakin pudar. Setiap hal dalam hidup kita saat ini hampir tak pernah tak kita ukur. Mungkin karena saya hidup di ibukota, yang keruwetannya sudah luar biasa ini, membuat saya tak mampu lagi melihat masyarakat ibukota mampu hidup bersama tanpa pamrih. Berbeda jauh dengan kondisi di pedesaan yang mayoritas masyarakatnya masih mampu memisahkan hal-hal yang perlu dihitung dengan hal-hal yang tak perlu dihitung. Hampir setiap hal di ibukota, dapat diukur (dihitung), dan seringkali parameter pengukurnya adalah uang.
Coba saja kita lihat contohnya:
  • ada yang mogok di jalan, jalanan semakin macet tanpa ada yang membantu orang itu meminggirkan kendaraannya. Kalaupun ada yang membantu mendorong, sudah barang tentu kita akan berpikir mengenai tips sebagai uang pengganti lelahnya.
  • ada yang meminta tolong untuk mengerjakan sesuatu, seringkali kita dengar jawaban: “Oh, maaf.. itu bukan jobdes saya..”
  • kelumrahan “fee jasa” untuk mereka yang menawarkan project kepada pihak lain.
Hal-hal ini hanyalah segelintir dari banyaknya fenomena “hitung-hitungan” yang terjadi di masyarakat kita. Tak sadar, kita pun ikut terbawa arus untuk berpikir dan mempraktekkan hal yang sama. Lalu kemanakah sifat tanpa pamrih yang biasa kita dengar dan kita lakukan dulu?
Di titik ini, saya yakin banyak sekali orang yang akan menanggapi bahwa sudah rasionalnya jaman sekarang itu hidup sudah susah, semua harus dihitung dengan uang atau balas jasa lainnya. Berbeda dengan kesusahan kakek-kakek dan orang tua kita dahulu merebut kemerdekaan atau di masa krisis ekonomi pasca merdeka. Kesusahan yang sangat berbeda! Bedanya, saat itu mereka masih mampu membedakan mana yang bisa dihitung dan mana yang tak perlu dihitung!
Betul, demi bertahan hidup, kita harus berhitung. Ya betul itu. Tapi apakah semua hal perlu atau layak dihitung? Sekali lagi, menurut banyak orang (termasuk saya) adalah demi bertahan hidup! Seperti bertahan hidup untuk bisa membeli gadget terbaru, berlibur ke luar negeri, mobil baru, makan di restoran, dan sebagainya. Semua hal yang sebenarnya bukan lagi untuk bertahan hidup belaka. Tetapi bertahan hidup nyaman. Dan sekali lagi, betul; saya juga tengah berada di tengah-tengah di arus itu. Arus yang sama yang menyeret pejabat-pejabat negara, wakil-wakil rakyat, manusia perkotaan dan bahkan kelas akar rumput yang kini semakin konsumtif.
Sifat hitung-hitungan ini adalah sifat yang otomatis akan semakin menjauhkan kita dari sifat tolong menolong, gotong royong dan tanpa pamrih itu tadi. Karena semua mulai bisa dihitung dengan uang.
Muaranya; yang saya takutkan adalah hidup semakin sentralistik pada kenyamanan dan kepentingan pribadi, keluarga, komunitas dan golongan tertentu. Lihat saja kasus-kasus yang ada; dari mulai saling serobot di jalanan, fenomena pak Ogah dengan “cepek dulu dong”-nya, persaingan bisnis saling jegal, atasan menginjak bawahan, bawahan nyeruduk-nyeruduk atasan, sesama pegawai saling sikut, pinjam barang ada harganya, khotbah ada fee-nya, bahkan jasa menukarkan uang kertas dengan koin pun ada fee-nya! Belum lagi bicara tentang “biaya produksi” pembuatan undang-undang.. Duh!
“Naif lu, Nesh!”
Yep, saya naif sekali. Karena saya masih belum bisa habis pikir, bagaimana bisa pendahulu-pendahulu kita -dengan kesusahan di jamannya- mampu bertahan hidup justru dengan melakukan sifat-sifat asli bangsa ini; tolong menolong, gotong royong, dan tanpa pamrih?! Dimana saat ini kita mulai meragukan sifat-sifat itu karena dianggap tidak rasional dengan kondisi sekarang?
Saya melihat, kuncinya justru ada di istilah awal itu sendiri; BERHITUNG.
Berhitung tentang mana yang perlu/layak dihitung dan mana yang tidak perlu/layak dihitung. Dan parameter hitungannya ada di hati nurani.

Memang tidak mudah. Memang tidak asyik. Memang tidak nyaman. Tapi tidak salah sama sekali. Hidup di Indonesia semakin kompleks. Problem di tingkat negara dan seluruh aparatnya sudah semakin rumit, menguras tenaga, pikiran dan dana. Lalu apakah kita akan terjebak di problem yang sama dengan mereka? Saya sih ogah.
Jadi kesimpulannya: mari mulai berhitung yang sebenarnya!
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: