Belajar yuk! Yuk belajar!

Sebuah repost dari blog multiply saya dulu:

Dalam dunia kreatif, banyak sekali hal yang bisa kita pelajari, terutama bagi praktisi kreatif itu sendiri. Untuk mempertajam kemampuan kreasi kita. Kemampuan untuk berkarya. Dalam proses belajar, tanpa sadar kita sering menganalisa banyak hal yang ada di sekeliling kita, di luar lingkungan kita, dan tak jarang menyerap hasil pengalaman seseorang yang biasa diintisarikan ke dalam sebuah paket teori.

Seiring dengan berkembangnya pengetahuan yang kita miliki, banyak hal yang secara tak sadar terstimulasi dari proses pembelajaran ini. Saya ingat sebuah metode pembelajaran yang diajarkan ketika itu, tapi saya lupa. Ada sintesa, feedback, output, dllsb (Motulzmungkin jauh lebih ingat), tetapi prinsip dasarnya sama. Hal-hal ini sebenarnya adalah sebuah tahapan standar dalam proses pembelajaran itu sendiri; ada teori, analisa, studi banding, pengalaman, apresiasi dan tentu selanjutnya dijewantahkan pada karya kita sendiri.
Hingga akhirnya setelah melewati proses ini, kita bisa memiliki sedikit kompetensi untuk mengkritisi.

Bicara soal kritisi, akhir-akhir ini saya perhatikan dari kebanyakan praktisi kreatif di sekitar saya; mereka mengkritisi lebih banyak daripada mengapresiasi dan berkarya itu sendiri. Tidak ada salahnya sih, tetapi alangkah baiknya bila seluruh proses pembelajaran menuju karya dilakukan sampai tuntas dulu sebelum dapat masuk ke stage kritik.

Contohnya, bila kita melihat sesuatu yang menurut kita menarik untuk dikritisi, apakah kita telah memahami teorinya? menganalisa setiap aspeknya? membandingkan dengan hal sejenis? mengalami kasus yang serupa? dan terutama, mampukah kita mengapresiasi hal itu? Seringkali kita terjebak terlalu kesusu untuk mengkritisi sebelum mampu melewati hal-hal tersebut, apalagi menciptakan karya yang sejenis.

Seorang kritisi film sebaiknya mengerti seluruh proses pembuatan film, alasan-alasan di balik pembuatan film itu, menikmati film itu sendiri, membandingkan dengan film lain di konteks yang sama dan mampu mengapresiasi film itu meski sudah jelas benar kekurangannya. Hingga ketika kritisi yang dilontarkan tidak lagi hanya sekedar ungkapan spontan, tetapi sudah melewati berbagai proses dan beragam sudut pandang. Untuk saya, ini adalah kedewasaan profesional dalam dunia kreatif.

Banyak kasus ajaib yang saya temukan di sebuah milis kreatif dunia iklan. Banyak lahir kritikus-kritikus iklan yang mendadak handal. Yang dengan mahirnya memainkan susunan kalimat yang dikutip dari teori tokoh iklan, dari teori-teori orang sukses dan banyak lagi. Namun sebenarnya kemampuan kritik yang sangat handal ini tidak memiliki latar belakang proses pembelajaran yang cukup untuk bisa sampai ke posisi seorang pengkritisi. Yang ketika itu, menurut Gus Ipang Wahid adalah tipe “anak jaman sekarang”. Yang menurutOom Daniel Rembeth adalah tipe “yang minta dielus-elus dan disayang-sayang”. MenurutDeni Omen adalah tipe “keracunan buku”.

Kita semua memiliki bakat untuk menjadi “anak jaman sekarang” atau “yang minta dielus-elus”. Berteriak lantang mengkritisi ini dan itu, meski belum pernah melakukan ini dan itu. Boro-boro melakukan, pengetahuannnya pun masih di tahap permukaan. Saya sendiri masih di tahap itu, maklum; anak ITB. Hihi. Maaf untuk para alumnus, dosen dan mahasiswa-mahasiswanya. Hihi.

Tapi, bakat buruk ini (bila memang dapat dibilang buruk), bisa dikikis. Dikikis supaya kadar “anak jaman sekarang” ini bisa berkurang sedikit demi sedikit untuk mengurangi “kebodohan” di mata banyak orang, terutama di mata mereka yang lebih menguasai pengetahuan itu setelah melewati proses pembelajaran tadi.

Caranya?

Gampang, tapi butuh waktu:
• ikuti dan patuhi semua proses pembelajaran itu sendiri (pahami teori, analisa, banding, pengalaman, apresiasi)
• perbanyak apresiasi dan berkarya, walau itu hanya untuk diri sendiri
• pelajari dulu latar belakang sebuah teori (karena seringkali teori itu hanya berlaku untuk sang pembuat teori)
• alami sesuatu. Pengalaman itu guru terbaik katanya! Ini bukan teori, tetapi “katanya”.
• perbanyak menyerap daripada menyembur
• sabar dan tidak terburu-buru

Dan somehow, menurut saya, cara ini tidak hanya bisa digunakan untuk dunia kreatif saja, tapi semua hal. Bukankah semua orang bijak melewati tahapan ini? Atau saya hanya berteori? Haha. Bukan.. ini bukan teori, ini hanya “menurut saya”, anak jaman sekarang, yang kebetulan sering dibilang kreatif sama kerabat saya. Haha.

Namun, terlepas dari semua yang saya celotehkan di atas, otak ini bukanlah otak siapa-siapa. Ini otak kita sendiri. Jadi, semua kembali kepada diri kita sendiri. Pendapat kita, ya pendapat kita. Mau kritik, mau apresiasi, ya silahkan saja. Tinggal usahakan untuk dapat menerima kritisi dan apresiasi yang sama dari orang lain saja. Haha.

Belajar yuk! Yuk belajar!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: