Mohon Turunkan Tanganmu, Jendral..

Baru saja aku menonton “Potret” di SCTV, sebuah kupasan tentang Kebangkitan Nasional. Menghadirkan Deddy Mizwar sebagai subjek liputannya.
Yang membuat saya menulis tulisan singkat ini adalah ketika disajikan sebuah klip dari film “Nagabonar Jadi 2”, adegan dimana Nagabonar bertanya kepada patung Jendral Sudirman, Jakarta, “Jendral! Turunkan tanganmu! Apa pula yang kau hormati di sana?!”
Kejadian yang mirip juga pernah saya alami. Ketika itu, kami baru saja melewati patung Jendral Sudirman dan salah satu atasan saya yang orang Malaysia pernah mengatakan dengan santai dan canda, “Let’s give him a salute! Since every morning, he always gives his salute to the mothafuckas who just got back from “kota”..! Hahahaha!”
Yang ia maksud adalah, kebanyakan orang pulang subuh dari arah “kota” biasanya baru saja selesai dugem, party ataupun jajan perempuan.
Saat itu, saya hanya bisa terdiam, karena ironi yang dinyatakan oleh atasan saya itu memang terjadi. Diam saya dalam amarah; hak apa dia seorang Malaysia berani mengatakan persepsi apa yang terjadi dari fungsi sebuah patung seorang Jendral Besar bangsa Indonesia ini?
Tapi dia memang tidak sepenuhnya salah. Dia hanya secara tidak sengaja bersikap kurang ajar saja. Kita-kita kita ini yang seringkali lebih tidak sadar lagi, bahwa kita sering lebih kurang ajar daripada atasan saya itu.
Kurang ajar terhadap mereka yang sudah mati untuk negara ini.
Kurang ajar terhadap ilmu-ilmu yang telah mereka ajarkan.
Kurang ajar terhadap warisan yang teleh mereka berikan kepada kita.
Kurang ajar terhadap negara dan bangsa ini.
Kurang ajar terhadap diri kita sendiri.
Sampai detik ini, sehancur apapun negara ini, saya tidak dapat berhenti untuk membanggakan Indonesia. Hancurnya negara ini pun tak lepas dari kesalahan saya. Baik itu karena membiarkan penyalahgunaan berbagai hal dalam bernegara, bahkan baik itu karena saya sendiri yang masih menyalahgunakan berbagai hal dalam bernegara.
Jadi, tidak ada alasan untuk mengeluhkan negara ini terus menerus. Karena satu-satunya yang harus dikeluhkan adalah kita sendiri.
Tapi, bila hanya keluhan saja yang mampu kita keluarkan untuk negara ini, pergi saja dari tanah air ini!
Malu bila menyadari, betapa Jendral Sudirman “menghormati” kita hingga akhir hayatnya. Hingga ia menjadi seonggok patung tak bergerak di jalan utama ibukota.
Dan kita?
berhubung saya harus menghormati yang motret, ya terpaksa ditulis deh, sumber foto di atas: photobucket.com
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: