23 – 25 Juni 2007

Butuh waktu lama untuk bisa menterjemahkan apa yang aku alami dalam hati ini di beberapa minggu terakhir ke dalam tulisan ini. Dua kejadian besar yang menguras banyak tenaga, pikiran dan perasaan.

Singkatnya, setelah melewati dua kali rangkaian mondar-mandirnya Aiiia ke rumah sakit karena terhambatnya perkembangan bayi di dalam perutnya, akhirnya tersepakati bahwa prediksi kelahiran anakku akan dilakukan dengan operasi cesar pada hari Kamis 28 Juni atau Rabu 29 Juni ini di Bandung. Sementara itu ibuku juga sudah memiliki rencana untuk pulang ke Bandung pada hari Senin 25 Juni 2007 untuk bersiap menyambut kelahiran putriku sekalian mau melebarkan jalan rumahku.

Namun ternyata Sang Rektor memutuskan hal lain. Ketika Aiiia check up untuk kesekian kalinya, ternyata menurut dokter detak jantung putriku dalam kandungannya semakin melemah. Darurat. Dokter segera memutuskan untuk melakukan operasi cesar malam itu juga. Aiiia meneleponku yang langsung termangu seperti baru disambar geledek.

Malam itu juga aku ke Bandung untuk mendampingi Aiiia melahirkan. Untung saja operasi belum dilakukan ketika aku hadir. Ketika semua siap, operasi pun dimulai di hadapanku. Melihat tensi darah Aiiia yang sangat tinggi aku mencoba mencairkan suasana dengan selalu bercanda dan melawak. Berhasil. Tekanan darah Aiiia perlahan turun dan suasana di kamar operasi cenderung ceria dan akrab antara operator, dokter, Aiiia, aku maupun ibu mertuaku.

Ia keluar dari perut ibunya dengan wajah dingin membiru. Ketika tangan sang dokter menarik rahangnya ke atas, kulihat jelas wajahnya tiba-tiba merengut dan tak lama kemudian meraunglah tangisannya keras. Kuadzankan kristal baruku itu dengan rasa yang belum pernah kurasakan sehebat ini sebelumnya.

23 Juni malam 22.55. Mikayla Asia Tamzil, sampai di bumi dengan selamat meski harus berada dalam inkubator sampai kini. 1,7kg 41cm. Mungil, namun dengan kaki menendang bebas dan sporadis bersama teriakan tangisnya yang membahana. Malam itu berakhir indah dan kami tidak tidur lebih dari 24 jam entah mengapa. Overjoyed?

Keesokan harinya aku menelepon ibuku untuk mengabari berita bahagia ini.
Agak aneh mendengar suaranya. Ia terdengar seperti mengantuk dan ketika mendengar tuturanku, tak ada bentuk ekspresi antusias yang biasa kudapati dari suaranya semenjak aku bisa mengingat. Ia terdengar biasa-biasa saja dengan basa-basinya. Sejenak aku merasa kecewa.
Karena aku merasa mempersembahkan sesuatu yang tak membuatnya bergeming. Bahakan hanya untuk mewakili ekspresi almarhum ayahku yang bisa dipastikan 1000% antusias dan bersemangat bila ia sempat mendengar berita ini. Hari itu aku kecewa sekali. Dan malam itu aku menangis dalam sujud dan terdiam menjerit kepada Sang Rektor mempertanyakan, mengapa sulit sekali membuat ibuku bahagia? Apakah peristiwa ini hanya merupakan kewajibannya saja sebagai orang tua? Tak ada lagi kata-kata selain jeritan-jeritan itu.

Aku tidur dengan hati tak menentu. Bahagia, senang, gembira dalam pertanyaan mengganjal dalam benak. Apa yang tengah dipikirkan ibuku malam ini?

25 Juni 2007 Pagi hari jam 06.30 kakakku menelepon dengan suara isak yang berat menyebut-nyebut ibuku. Aku diam mendengarkan. Selesai bicara, telepon kututup. Kakak iparku menelepon kemudian. Dengan nada yang serupa. Ibu pergi. Tanpa pesan, tanpa regang, tanpa sakit. Dalam tidurnya.

Tak ada tangis di bola mataku. Perih pun tidak. Mendengar berita ini Aiiia tercekat. Tekanan darahnya langsung melambung. Aku hanya diam. Kutelepon Icha di Jakarta. Jelas ia hancur. Semua berderai. Tidak aku. Seperti seorang yang sudah siap. Dengan segalanya. Bahkan tudingan pada punggungku yang mengatakan aku tak memiliki hati. Tak berprihatin. Siap. Aku siap dengan semuanya. Denial? Kesiapan artifisial? Amarah? Entah. Tetapi hingga kini, setelah aku menyaksikan betapa sahabat-sahabatku basah pipinya sekalipun aku tak bergeming. Sedikit ketika kulihat keponakanku yang histeris, ada sedikit isak di dadaku: mengapa putriku tak sempat menikmati ibuku seperti keponakanku? Menikmati timangannya. Menikmati senyumnya. Menikmati ilmu-ilmunya. Menikmati teguran-teguran kerasnya. Namun aku tahu bahwa itu isak cemburu.

Hinga kini, aku tak tahu harus bersikap seperti apa. Kebahagiaan spontan plus kesedihan yang selayaknya dipadukan dalam satu waktu yang sangat singkat dengan getar yang begitu tinggi hingga tak lagi terasa oleh rasa itu sendiri.

Putriku sampai dan ibuku berangkat. Tanpa sempat mereka saling memandang barang sedetik pun. Bahkan jerit putriku dan sapa ibuku tak pernah saling berbenturan.

Pagi itu ibu pulang ke Bandung sesuai janjinya. Siang itu ibu melebarkan jalan kepadaNya, sesuai rencanaNya. Sang Rektor hadir dalam pandanganNya yang paling tak dapat kutebak selama udara mengisi paru-paru ini. Semester berapakah aku kini? Banyak lidah meliuk melontarkan hikmah.
Terimakasih.
Terimakasih.
Terimakasih.
Tetapi melihat kenyataan bahwa setiap orang mendekatiku dengan ucapan selamat dan ucapan belasungkawa adalah sebuah pengalaman yang sangat absurd. Seabsurd sikapku yang hingga kini belum kutentukan. Karena siapa aku mencoba menentukan apa yang harus kusikapkan? Sementara Sang Pemilik Hati pun tengah memberikan rasa baru yang tak terasa maupun berasa dalam jantung ini. Otak ini. Otot ini. Jiwa ini.

Apa ini?

Ketika aku tengah berusaha mencari jawabannya, kewajiban sudah menumpuk, mengantri untuk secara wajib kusetubuhi satu per satu. Seakan Sang Rektor tak memberiku kesempatan untuk merasa, bersikap dan belajar dari pelajaranNya kali ini. Untuk kemudian menjadi tambahan sifatku. Seakan Ia tak mau pengalaman ini memberi sumbangan sifat baru dalam karakterku.

Bahkan aku masih belum menemukan waktu yang paling tepat dalam hatiku untuk berterimakasih kepada ibu. Yang telah hadir di bumi untuk berkenalan denganku sebagai cikal bakalku. Ini sangat mengiris jiwa. Hanguskah prihatinku?

Wahai Sang Rektor, apa tujuan semesterMu kali ini?

Khusus untuk sahabat-sahabatku, apapun itu, saat ini adalah kesempatan diri ini untuk mengucapkan terimakasih kepada semua sahabat yang sudah memberikan berbagai dukungan, baik moral, material, fisik hingga doa yang terjamin mustajab. Ple, Inda, Rufi, Omen, Bayu, Ade, Icha, Eka, Heru, Iyo, Elis, Lala, Vic, Cagi, Denny, Thoriq, Motulz, Yaya, Yv4hn, Denir, Tiqa, Ojel, Teddy, dan semua yang tak sempat tersebut disini. Kalian semua tahu betapa aku bersyukur aku memiliki kalian. Mohon maafkan ibuku bila ia ada kesalahan. Mohon doakan ia agar dapat segera memeluk senyumNya.

Terimakasih.

Terimakasih.

Terimakasih.

Hatur sembahku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: