Buat Kalian Mungkin Klise

Pernah kusebut cita-cita dan impianku di bumi. Mungkin sudah berpuluh orang sudah mentertawakanku. Beratus orang mencibirku. Tak sedikit pula yang menahan senyum mendengar apa yang ada di hati, jiwa dan kepalaku. Bahkan mungkin Anda sendiri yang sedang membaca tulisan ini akan terpingkal jungkir balik membacanya.

Cita-cita dan impianku adalah:membela, membangun, memperbaiki dan berkorban untuk bangsa, negara dan tanah air ini.

Yap. Apapun untuk bangsa, negara dan tanah air ini, akan aku lakukan. Rasa patriotisme dan nasionalisme terhadap negara ini begitu berartinya buatku, hingga tak sadar beberapa orang menganggapku mimpi di siang bolong, mempertanyakan pemikiranku, sampai mentertawai pemikiranku. Yah, silahkan saja. Tapi yang pasti, bila ada yang berani mengusik negaraku ini, saya siap memangkas lehernya. Yap! Termasuk Anda di pojok sana yg sekarang sedang mencibirku!

Cita-cita dan mimpiku ini bukan tanpa alasan. Terlahir dari keluarga nasionalis, darah yang mengalir pun tak jauh dari merah putih. Ah, itu saja belum cukup untuk menjadi seorang nasionalis. Perlukah kusebut berapa lama keluargaku ditindas penjajah? Dibungkam secara politik? Perlukah kusebut berapa kali ayahku ditindas bangsanya sendiri karena membela tanah air ini? Dijegal dalam bisnis jujurnya? dipersulitnya hidup oleh bangsa sendiri yang mengatas namakan aparat pemerintahan? Ketika orang lain sudah kabur ke negara lain, beberapa sudah terlalu terdepresi hingga mempasifkan dirinya, sementara aku dan keluarga masih tetap mencintai negara ini? Aneh bukan?

Sederhana saja, aku meneteskan ari-ariku di tanah ini, tubuhku dicuci oleh air ini, kuberak di tanah ini, kumakan di tanah ini, kuminum airnya, kujatuhkan airmataku di tanah ini, kuteteskan darah di tanah ini untuk kemudian dibasuh kembali oleh air ini. Dan tega-teganya kutinggalkan tanah air ini? Dan setelah itu aku mampu berbohong, bercurang, berlicik, berculas dan berhasut dalam kesaksian tanah air ini? Malulah aku! Tanah air ini masih mengasuhku, membesarkanku, menghidupiku sampai detik ini dan tak ada yang kubalas untuknya?

Tak ada yang membuatku gentar untuk membela tanah air ini. Kuingat caciku kepada aparat korup itu. Kuingat makiku kepada keluarga mantan presiden di telinganya. Kuingat buku kepalku ketika menyentuh hidung petugas negara hingga tersungkur dalam jeritan ancamannya. Kuingat pula ketegangan di wajah ayahku ketika kuterancam masuk bui karena dendamku pada penyelewengan penyelenggaraan negara.

Ketika Suharto masih berkuasa dan semua orang hanya berani bungkam dalam takut. Tak pernah sedikitpun dari keluargaku yang gentar meneriakkan kebenaran dalam negara. Ayahku yang dijegal dan dijauhi dalam bisnis karena menolak diajak ikut menjual negara ini. Hingga ia siap miskin karena tindakannya. Lalu kini tiap orang berlomba berteriak mencaci Suharto, mengkritik penguasa, membakar foto penguasa, mencibirkan mulutnya terhadap kebijakan-kebijakan penguasa. Baru sekarang mereka berani melakukannya. Beranikah mereka berteriak di tengah ancaman Suharto sang juara “main belakang”?

Ketika SBY terpilih menjadi presiden ke 6 negara ini, aku berlari mengejarnya di depan Agis Electronic, Pondok Indah Mall. Kuhadang, kutatap matanya, kuulurkan tanganku. Matanya pun lekat menatapku menyambut tanganku. Tak perduli dengan bodyguard yang banyak, kuucapkan, “Pak, saya titip negara ini!”. Ia diam sebentar tanpa berkedip dan membalas, “Baik, dik! Baik!”. Tak ada kata selamat yang meluncur dari mulutku. Karena tidak ada yang perlu diselamati. Tak ada sama sekali! Siapapun yang memegang negara ini pada saat sekarang adalah kesialan yang menimpanya. Dan pekerjaannya hanyalah memperbaiki yang rusak parah, hancur lebur, karat yang mengeropos jiwa tulus, virus yang menjijikkan bagai penyakit kelamin yang menggerogoti otak bersih, udara beracun yang menciutkan paru-paru kejujuran.

Benar pulalah yang ia alami sejauh ini. Mati-matian dihajar bencana, kredibilitas yang diragukan, berbuat ini salah itu salah, dibakar fotonya, dikritik dalam berbagai kebijakan yang ia ambil.

Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Menyaksikan polah manusia-manusia yang hanya bisa berkomentar tentang sang penguasa baru. Mereka yang mudah mengeluh dalam hidup diatas tanah air ini. Yang tak perduli apapun tentang bangsa ini. Yang hanya bisa berteriak-teriak protes menjeritkan demokrasi, dan disaat demokrasi diberi, mereka lalumembakarnya sendiri. Yang merasa gagah diatas panggung berteriak-teriak seakan bila belum pernah demo, berarti belum bisa dianggap pintar dan berani.

BULLSHIT itu semua! TAI BABI itu semua! Mulailah berhidup di tanah air ini tanpa banyak keluh kesah, cobalah kurangi tarikan urat leher seakan kau tahu bagaimana cara menjalankan negara ini, sebelum kau tahu tentang negara apa ini! Patriotisme tidak hanya tentang menerima hantaman rotan petugas dalmas! Nasionalisme bukan hanya tentang melompati ban bekas yang terbakar!

Jalani hidupmu dengan benar demi bangsa ini! Jangan sekarang kamu teriak-teriak, mencibir, sok pesimis, sok tak perduli dan mentertawai bangsa ini sementara kamu juga yang menawarkan beberapa puluh ribu rupiah kepadanya ketika kau ditilang! Sementara kamu membuang gelas kertas keluar jendela angkot! Sementara kamu berdiam ketika si nenek-nenek takut menyeberang jalan! Bangsat!

Dan ketika sedang kujalani hidupku demi bangsa dan negara ini, seorang gubernur korup berani bermain-main api denganku. Siapkah dia terbakar?

Karena aku siap.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: