Bapak-bapak

Geli menggelitik ketika aku menghabiskan waktu di Thai Express sore hari ini sambil menunggu kedatangan ibu dan kakakku. Mengapa kugeli? Hehe.. Karena tepat di sebelahku, duduk sekitar 8 orang bapak-bapak yang masih berkemeja, tampaknya baru pulang bekerja atau seminar, sedang asyik masyuk menyantap makanan dengan lahapnya.

Melihat polah mereka memang menarik, karena sauatu saat nanti akupun akan mengalaminya. Bekerja seharian penuh, menjalani semua kegiatan kantor hingga lelah dan lapar. Ketika hari berusai, masih bersama rekan-rekan kerja menghabiskan waktu dan tenaga untuk makan-makan di restoran. Begitu bersemangatnya menyantap hidangan, seakan esok sudah kiamat. Masing-masing sibuk mengunyah, mencuri-curi pandang makanan pesanan rekannya yang lain, menatapnya seakan hanya makananlah yang paling penting di dunia ini. Seperti apa yang kulihat di perilaku bapak-bapak ini.

Ah, kubaru tersadar bahwa pada saat-saat seperti inilah, saat yang paling tepat untuk melupakan sejenak peristiwa-peristiwa hidup di kota besar. Lupakan segala masalah, kewajiban dan tantangan, lalu tenggelam dalam keasyikan menyantap hidangan. Berkali kulihat beberapa diantara mereka menambah pesanannya, bahkan hingga tulisan ini sampai pada paragraf ketiga pun mereka masih sibuk mengunyah.

Berbagai pertanyaan mampir di benakku; kemana istri-istri mereka? Tidakkah istri-istri mereka curiga karena belum juga mereka sampai di rumah? Tidakkah mereka khawatir para suami berselingkuh seperti biasa terjadi di kota-kota besar?

Tentunya para istri pun percaya kepada suami-suaminya, bahwa para suami hanyalah menghabiskan waktu di restoran atau mal-mal untuk menyantap hidangan tanpa harus diingatkan oleh ancaman-ancaman kolesterol, trigliserid, diabetes ataupun asam urat. Para istri tahu bahwa sekali dalam beberapa waktu, ada baiknya juga melepas sang suami untuk melakukan apa yang mau mereka lakukan dan sementara lepas dari kewajiban-kewajiban mendasarnya dalam rumah tangga.

Tokh mereka tidak berselingkuh.
Tokh mereka tidak korupsi.
Tokh mereka tidak buang-buang waktu percuma.
Tokh mereka layak mendapatkan saat-saat seperti ini.

Begitu indah dan berharganya sebuah kepercayaan. Apalagi dari seorang istri.

Akankah mereka memperkosa kepercayaan itu?
Berselingkuh.
Korupsi.
Buang-buang waktu percuma.
Mumpung layak mendapatkan saat-saat itu.

Sebelum kuselesaikan tulisan ini, kucoba untuk mengganti kata “bapak” dengan “ibu”, “suami” dengan “istri”, “aku” dengan “kamu”.

Dan, sebelum sempat kuberpikir lagi, para bapak-bapak itu sudah mengusap-usap perut mereka masing-masing, beberapa diantaranya asyik memainkan tusuk gigi di celah-celah gigi mereka. Mereka sudah selesai dengan waktu mereka yang indah dan berharga itu, selesai menggunakan kepercayaan itu.

Untuk hari ini.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: